Sumber gambar: Drew Jaynes, digunakan dengan izin lisensi Creative Commons.

Internet adalah Konspirasi Tuhan untuk Membantu Malaikat Rokib-Atid

(Postingan ini adalah b-side dari tulisan saya di kolom Sains Masa Depan, Majalah Sains Indonesia edisi 28 yang terbit Maret 2014)

Di tahun 2020 diperkirakan setiap orang di bumi memiliki 6,6 benda yang terhubung dengan internet. Kalau saat ini kita punya smartphone, smart tv, bahkan smart refrigerator, bisa dibayangkan benda apa lagi yang akan menjadi “smart” dalam 10 tahun ke depan. Jonathan Strickland dalam situs Fw: Thinking mengatakan, benda-benda itu berpotensi untuk mengubah cara kita memandang realita. Aku, kamu, gadis yang melayani kalian di Starbucks, semuanya memiliki realita sendiri-sendiri.

Seperti yang kita ketahui, internet adalah teknologi dualistik. Ia punya dua arah. Selain menawarkan berbagai ragam realita ia juga mencatat setiap gerak-gerik kita—fungsi yang akan memudahkan pekerjaan Malaikat Rokib dan Atid. Mau tahu isi pikiran seseorang? Follow twitter-nya atau baca kolom komentar. Mau tahu dia ngapain aja hari ini? Stalk halaman Facebook-nya dan kunjungi Path-nya. Mau tahu bagaimana dia menghabiskan waktu luangnya? Cek riwayat peramban webnya*

Maka jangan heran bila di tahun 2025 ketika manusia sudah semakin virtual, para ustaz mengajarkan santri-santri mereka untuk menjaga perilaku karena “Malaikat Rokib dan Atid mengintai Facebook-mu, mengikuti twitter, Path, instagram, linkedin,..” dan entah apa lagi.

Berbicara kembali tentang sifatnya yang dualistik, internet juga punya dua sisi. Ia menyediakan penggunanya insight tentang dunia di sekitarnya, ia memudahkan kita untuk keep in touch dengan teman-teman dan kerabat yang berada di tempat yang jauh. Di sisi lain, ia juga jadi tempat sampah.

Dulu, orang-orang punya semacam diary atau jurnal yang digunakan untuk mencatat kejadian sehari-hari, perasaan, dan potongan-potongan pikiran rahasia mereka. Buku ini adalah privasi. Ia bisa dibuka sekali-sekali untuk melakukan refleksi; membantu si penulis memahami apa yang terjadi dengan dirinya.

Sekarang, alih-alih berurusan dengan rasa sedih, marah, cinta, rindu, dan persoalan emosional lainnya kita menumpahkan semuanya di internet. We used to deal with our problem. Ketika kita enggak suka sama seseorang, kita mengatakannya terang-terangan, atau memendamnya dalam hati sampai waktu yang tepat. Sekarang kita bertingkah aku-baik-baik-saja di depan mereka, sambil memaki mereka diam-diam di hadapan jutaan orang asing di internet.

Maksud dari generalisasi saya yang keterlaluan ini adalah: Nobody wants to read your unprocessed crap!

Tentu kalian bisa bilang kalau ini tak terelakkan; kalau internet, khususnya media sosial, adalah ruang publik tempat semua orang bebas berpendapat. Well, let me tell you one thing about public space: Gak ada yang suka liat orang buang sampah sembarangan di sana!

Perlu diingat, kalau semua sampah itu akan dipertanggungjawabkan.

Filsafat ilmu mengajarkan, teknologi tidak bebas nilai; nilai teknologi ditentukan oleh penggunanya. Jadi kita bisa berbagi hal-hal yang punya nilai, setidaknya humor, dan berhenti membuang waktu semua orang. Kita bisa melakukan reduce, reuse,recycle pada sampah kita demi lingkungan internet yang lebih sehat. Atau kita bisa bareng-bareng nyampah di kolom komentar. Tuh, sudah saya sediakan.

*padanan Bahasa Indonesia dari web browser

KASIHAN! LULUSAN ITB INI AKHIRNYA DITERIMA KERJA, EH TERNYATA PENIPUAN…

Penulis : Klar Ken   Selasa, 3 September 2013   14:55
P, menolak difoto saat ditemui di rumahnya (Foto: Jimi Olsen)

P, menolak difoto saat ditemui di rumahnya (Foto: Jimi Olsen)

RANCAEKEK, AMPAS.com - P, seorang lulusan program studi biologi Institut Teknologi Bandung, mengaku menjadi korban penipuan yang mengatasnamakan PT. Pertamina.

“Saya mulai curiga ketika diminta untuk mentransfer uang sebesar ± 3 Juta Rupiah”, kata P, ketika ditemui di kediamannya di Perumahan Rancaekek Kencana, Selasa (3/9/2013).

P, yang sudah hampir dua bulan lulus dari ITB, pertama kali mendapatkan kabar akan adanya seleksi karyawan PT. Pertamina melalui sms yang dikirim ke Blackberry ayahnya, oleh salah seorang kolega ayahnya di kantor. Sms tersebut menyatakan kalau Pt. Pertamina menerima karyawan setara S1, S2, dan D3. Calon peserta seleksi diminta untuk mengirimkan surat lamaran, CV, dan foto beserta alamat e-mail dan nomor Hp. ke alamat: pcc.pertaminahrd@dr.com. Setelah cukup lama jadi pengangguran, P menganggap tawaran tersebut sebagai sebuah kesempatan yang sayang untuk dilewatkan. Apalagi persyaratan yang diminta cukup mudah untuk dipenuhi. Malam itu juga P mengirim berkas yang diminta.

Dua hari kemudian, P menerima sms dari seseorang yang mengaku sebagai Manajer HRD Pertamina. Sms tersebut menyatakan kalau undangan tes calon karyawan telah dikirimkan via e-mail dan segera meminta konfirmasi kehadiran lewat sms. P langsung mengecek kotak masuk e-mail-nya dan menemukan balasan dari alamat di atas, sebuah e-mail kosong dengan attachment sebuah dokumen berformat .pdf. Dokumen tersebut terdiri dari empat lembar.

Lembar pertama berisi pemberitahuan kelulusan seleksi administrasi dan undangan untuk memenuhi tes seleksi calon karyawan, beserta waktu dan tempat pelaksanaan tes. Tes akan dilaksanakan pada hari Jumat (6/9/2013) di Komplek RUKO Millenium Plaza Blok B No.1 Jl.Kapten Muslim, Medan. Waktu pelaksanaan tes dicantumkan di lembar berikutnya. Calon peserta diminta untuk membawa perlengkapan tes dan identitas diri.

Lembar ke dua berisi daftar peserta yang lolos seleksi dan waktu pelaksanaan tes, yang ternyata berbeda-beda untuk tiap orang. Di atas daftar peserta tertulis “Berikut ini adalah daftar peserta yang berhak mengikuti tes wawancara“. Di bawahnya terdapat keterangan kalau peserta tes wajib melakukan reservasi pemesanan (tiket & hotel) di travel yang sudah disiapkan oleh perusahaan untuk akomodasi dan mobilisasi peserta selama pelaksanaan tes. Peserta tes diminta melapor ke agen travel yang contact person-nya tercantum di situ.

Lembar ke tiga berisi informasi tentang tes. Pada lembar tersebut tertulis bahwa seleksi karyawan terdiri dari tiga tahap: seleksi administrasi, tes kompetensi dasar, dan wawancara. Tercantum juga bahwa seleksi masuk tidak dipungut biaya.

Lembar ke empat berisi ketentuan peserta, informasi akomodasi dan transportasi, dan kebijakan PT. Pertamina. Disebutkan bahwa biaya akomodasi dan transportasi ditanggung oleh peserta untuk sementara, dan akan diganti oleh perusahaan setelah seleksi selesai. Pada bagian Kebijakan PT. Pertamina disebutkan bahwa gaji karyawan lapangan akan meningkat berlipat-lipat kali bila didasarkan pada level tuntutan SERIKAT PEKERJA PT.PERTAMINA (persero), dengan dasar gaji awal untuk karyawan baru sebesar Rp 6,5 juta/bulan dan bagi karyawan non staf dengan kompetensi tertinggi sebesar Rp 12,5 jt/bulan.

“Saya akui saya sempat silau dengan bayangan gaji sebesar itu, sehingga nggak nyadar kalau ada yang aneh dengan surat tersebut.” Kata P dengan penuh penyesalan. “Saya langsung menelfon ayah saya di Jakarta untuk menyampaikan, apa yang waktu itu saya pikir, kabar gembira ini.”

Ketika P menelfon nomor contact person yang tercantum dalam surat tersebut, barulah P menyadari ada yang janggal.

“Pas saya telfon, suaranya nggak jelas. Saya minta informasi tentang akomodasi dan travel lewat sms saja. Eh, dia malah langsung nanya mau bayar pake ATM apa. Saya sms lagi minta informasi, dia balas ‘biaya tiket pp, hotel 2 malam 1 hari, biaya makan dan pakaian seragamnya total Rp. 2.755.000′. Saat itulah saya mulai curiga…”

Merasa bahwa jumlah uang tersebut terlalu besar untuk acara yang waktunya begitu mendesak, P mencurigai kalau dirinya adalah calon korban penipuan, alih-alih calon peserta seleksi karyawan. P mencari informasi mengenai seleksi karyawan PT. Pertamina di internet dan menemukan beberapa orang yang curhat di forum-forum dan media sosial yang mengaku mengalami hal yang sama. P pun membuka situs resmi PT. Pertamina dan menemukan himbauan untuk waspada terhadap penipuan, dan bahwa PT. Pertamina ” tidak pernah meminta uang atau pembayaran dari pelamar dalam setiap tahapan rekrutmen”. Jelaslah bahwa seleksi tersebut adalah sebuah modus penipuan.

Setelah diteliti kembali, barulah P menemukan banyak keanehan dalam surat pemberitahuan yang diterimanya. Surat tersebut diketik dengan kurang rapi, dengan huruf-huruf yang saling berhimpit. Beberapa tulisan tampak seperti ditambahkan belakangan dengan font yang berbeda. Di lembar ke tiga dikatakan kalau peserta harus melalui tes kemampuan dasar terlebih dahulu, tapi di lembar ke dua sudah langsung tertulis “daftar peserta yang berhak mengikuti tes wawancara”, sehingga tidak jelas, tes apakah yang akan dilaksanakan. Waktu pelaksanaan tes pun terlalu mepet dengan waktu penerimaan surat undangan, hanya selang tiga hari.

Diminta tanggapannya atas kejadian tersebut, P mengaku merasa kesal, tapi bukan pada si penipu.

“Saya kesel sama diri sendiri. Kok bisa-bisanya nggak nyadar kalau saya lagi ditipu. Saya kesel karena ternyata saya lemah, saya begitu mudah tergiur oleh bayangan uang yang banyak sehingga lupa diri.”

P mengaku bahwa dirinya memang sedang ada di posisi yang sulit. Telah cukup lama lulus dari ITB, P sangat ingin menyusul teman-temannya yang sudah mulai mapan, beberapa di antaranya sudah atau sedang merencanakan pernikahan. P merasa malu karena belum bisa mandiri, masih tergantung pada kedua orang tuanya. P juga malu karena gadis yang ditaksirnya sudah melanjutkan kuliah ke S2 sambil bekerja untuk membiayai sendiri sekolahnya. Karena itu, ketika mendapatkan tawaran tersebut, P tidak berpikir panjang. Orang-orang seperti P inilah yang umumnya sering menjadi korban penipuan dengan modus tawaran kerja.

AMPAS.com memberikan simpati sedalam-dalamnya pada P, dan orang-orang lainnya yang mengalami hal serupa. Kami mendoakan supaya P segera mendapatkan pekerjaan dengan gaji dan layak, meneruskan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi, dan bisa menikah dengan gadis pujaannya. Kepada pembaca yang budiman, kami sarankan untuk berhati-hati akan modus penipuan seperti ini. Carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang tawaran kerja yang Anda terima. Bila pada tawaran tersebut tercantum alamat e-mail, pastikan bahwa alamat tersebut adalah alamat e-mail resmi perusahaan. Ingat, perusahaan yang asli akan menggunakan alamat e-mail dengan domain situs resminya, bukan situs penyedia layanan e-mail seperti yahoo, gmail, atau dalam kasus P, dr.com, yang setelah dicek ternyata adalah situs kedokteran.

Supaya para pembaca bisa lebih berhati-hati, AMPAS.com menyediakan surat pemberitahuan palsu yang kami dapatkan langsung dari P, yang dapat diunduh di sini

P terakhir terlihat sedang mengurung diri di kamarnya, menonton Star Trek untuk menghibur diri.

Editor : Peri Wait

 

Seamus-Heaney-006

Rest in Peace, Seamus Heaney…

Pada hari Jumat kemarin (30/08/2013) salah seorang penyair kenamaan dunia, Seamus Heaney, berpulang [1]. Penyair asal Irlandia ini adalah penerima nobel sastra pada tahun 1995. Sebagai penggemar sastra terutama puisi, saya belum banyak mengenal beliau dan karya-karyanya. Perkenalan saya dengan Tuan Heaney berawal di sebuah toko buku di Jalan Braga, pada suatu sore saat saya sedang mencari buku-buku murah dan langka. Di sana saya menemukan antologi puisi beliau, “Impian Kecemburuan”, yang diterjemahkan oleh Agus R. dan Nikmah Sarjono untuk Forum Sastra Bandung (FSB) pada tahun 1998. Buku antologi tersebut sangat tipis, hanya 23 halaman, dan dibanderol 5000 rupiah saja. Saya membelinya, beserta sebuah komik Punisher si Pembantai terjemahan yang diterbitkan Misurind.

Hal yang membuat saya memilih buku tersebut dan tertarik pada karya Tuan Heaney adalah sajak yang tercantum di halaman pertama, sajak berjudul “Semenanjung” yang bercerita tentang perjalanan pulang. Sajak ini menarik perhatian saya karena bahasa beliau yang begitu lugas dan sederhana dalam menggambarkan panorama alam yang dilintasinya dalam perjalanan pulang. Cakrawala, bukit, dan ladang dalam sajak tersebut seakan berima dengan cakrawala, bukit, dan ladang yang saya lewati di perjalanan pulang menuju Rancaekek naik kereta api. Siapa sangka, beberapa bulan setelah saya membaca sajak tersebut, beliau benar-benar berpulang.

Karena kecintaan saya pada sajak tersebutlah saya merasa perlu membuat tulisan ini, sebagai semacam persembahan untuk beliau. Lucu, ya. Betapa suatu hal sepele bisa berarti begitu besar. Betapa karya yang sangat indah dari seseorang yang sangat hebat bisa menyentuh saya yang begitu remeh ini lewat cara yang begitu sederhana. Melalui perkenalan di toko buku itu, Tuan Heaney telah hidup abadi dalam kenangan saya, namun beliau sama sekali tidak tahu. Memang begitulah penulis, mereka hidup abadi dalam karyanya.

Berikut sajak yang saya maksud:

Semenanjung

Manakala tak ada yang bisa kau ucapkan, berkendaralah santai
Pada suatu hari menyusur semenanjung.
Langit menjulang di atas galangan
Terhampar tak berbatas hingga kau tak akan sampai.

Namun lintasi saja, meski tak bakal kau temui selain bentangan
Pada senja, cakrawala turun mereguk pantai dan bukit,
Ladang usai terbajak melulur dinding terlabur kapur
Dan kaupun kembali dalam gelap. Kini kenangan

Bibir pantai yang kilau dan bayang pepohonan
Bergoyang, di mana hempasan ombak tercabik menjadi serpihan kain
Burung bangau mencangkung di atas kaki-kaki mereka,
Pulau-pulau mengayuh diri ke dalam kabut.

Dan kembalilah pulang, masih tanpa sesuatu terucap
Kecuali bahwa kini dapat kau maknai seluruh panorama
Dengan begitu: benda-benda dijumpa bersih dalam rupa sempurna
Air dan tanah begitu lengkap.

1969

Pustaka:
[1] KOMPAS, 31 Agustus 2013. “Seamus Heaney, Penyair “Perdamaian” Irlandia Utara Itu Berpulang…”. http://internasional.kompas.com/read/2013/08/31/1100259/Seamus.Heaney.Penerima.Nobel.Sastra.1995.Berpulang. Diakses 31 Agustus 2013, pukul 22:54.